Oleh: Miswanto, S.Ag., M.Pd.H.
(Kepala SD Negeri Pesanggrahan 01 Batu)
Menulis itu susah ⎯kata sebagian orang⎯ kalau tidak diawali dan diasah. Banyak orang yang sebenarnya takut dengan bayang-bayang pikirannya sendiri, hingga membuat mereka malas untuk memulai dan enggan untuk mengasah.
Padahal, dari tulisannya orang bisa dinilai bagaimana keterampilan berpikir kritisnya. Sering kali kita sebagai seorang guru ketika menilai hasil karangan anak-anak menggerutu dalam hati, “iki nalare neng endi? (ini nalarnya di mana?)”. Kata Mangkunegaran IV dalam Serat Wedhatama, “nora mulur, nalare ting saluwir”.
Saya sangat mengapresiasi Dinas Pendidikan Kota Batu yang pada Kegiatan Sosialisasi Manfaat Program Aplikasi Platform Skillspot dan Lomba Pembuatan Buku hari ini (12/08/2026) di Kantor UPTD Dinas Pendidikan menggulirkan wacana/rencana lomba menulis buku bekerja sama dengan Airlangga. Saya pikir, Dinas sudah paham bahwa menulis itu penting, untuk menumbuhkan tidak hanya nalar kritis, tetapi juga kreativitas.
Menulis itu sebenarnya bukan perkara yang susah, kalau dikerjakan dan diasah terus menerus. Orang yang suka menulis pasti suka membaca, termasuk membaca WA dengan “saksama dan dalam tempo yang sesingkat-singkatnya”. Artinya membaca WA pun harus memahami konten dan konteksnya, bukan hanya ⎯maaf⎯ scroll-scroll saja.
Berbicara asah-mengasah dalam hal menulis, kalau diizinkan saya ingin berbagi sedikit pengalaman dalam menulis.
Awalnya saya tidak suka menulis. Saya sukanya berbicara, dan memang sejak kecil saya ingin menjadi penceramah, tapi bukan pencemarah ya. Di Kelas V SD, saya sudah dilatih untuk berceramah di hadapan orang-orang tua. Meskipun berbekal “sugih kendel bandha wani”, saya sudah terbiasa memberikan ceramah di usia sangat belia.
Karir menulis yang saya jalani hingga sekarang saya awali ketika mahasiswa di semester II. Waktu itu saya membaca sebuah artikel yang mengutip Pramodya Ananta Toer, “Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah, menulis adalah bekerja untuk keabadian.” Kala itu saya mulai berpikir supaya saya tidak ingin hilang dari sejarah, maka saya harus menulis.
Berbekal mesin ketik kuno, dengan buku-buku bacaan seadanya saat itu, saya menulis artikel pertama saya berjudul “Dharma, Jalan Menuju Keabadian” yang saya kirim ke Majalah Warta Hindu Dharma. Saya sungguh senang kala itu, karena artikel saya diterima oleh redaktur dan dimuat di majalah. Lebih senang lagi ketika saya menerima wesel yang berisi honor menulis pertama kala itu sebesar Rp. 60.000,00 (enam puluh ribu rupiah). Sejak saat itu saya terus menulis dan mengirimkan ke redaksi majalah-majalah lokal di Bali. Walhasil, saya bisa menambah uang jajan dan biaya untuk beli buku. Sejak itu pula saya pasti belanja buku seminggu sekali.
Keterampilan menulis saya sejak mahasiswa berlanjut ke dunia jurnalis. Saya sempat ikut Pelatihan Jurnalistik yang diadakan oleh Wartawan Balipost Senior selama kurang lebih 6 bulan. Di kampus, saya pun menginisiasi dan membidani penerbitan majalah kampus. Selama kurang lebih 2 tahun, saya mengelola majalah kampus tersebut dan menjadi pemimpin redaksi di sana.
Setelah lulus kuliah, saya terus mengasah kemampuan di bidang jurnalistik, hingga saya pernah lolos dan diterima sebagai wartawan Radar Banyuwangi (Jawa Pos Group) selama kurang lebih 6 bulan, sebelum akhirnya diterima CPNS di Kota Batu pada tahun 2009.
Dari dunia jurnalis saya mulai merambah ke dunia jurnal ilmiah, ketika saya dipercaya menjadi Pengelola Jurnal Ilmiah di Kampus STAH Shantika Dharma Malang hingga sekarang. Ketika mengelola jurnal ilmiah ini pun saya pernah meraih penghargaan Juara I dalam ajang Lomba Menulis Artikel Ilmiah antar Kampus Hindu se-Indonesia.
Tidak berhenti hanya sampai di artikel ilmiah, saya mencoba peruntungan di buku. Buku pertama saya berjudul “Esensi Falsafah Jawa” (ISBN: 978-979-72278-7-6) diterbitkan tahun 2009. Tahun 2019 saya menjadi Chief Editor di Penerbit Tri Murti dan 2020 saya juga dipercaya menjadi Chief Editor di Penerbit Pandu Nusa. Sejak saat itu hampir setiap tahun saya menulis dan menerbitkan buku, dan hingga sekarang sudah 32 buku yang sudah saya tulis (23 di antaranya ber-ISBN). Kalau ditambah dengan buku-buku yang saya edit, sudah lebih dari 50 buku.
Pengalaman berharga lainnya ketika menulis buku itu ketika saya dipercaya oleh Kemedikbudristek Dikti kala itu untuk menjadi penulis buku siswa untuk kurikulum merdeka. Ini tautan buku yang saya tulis kala itu https://buku.kemendikdasmen.go.id/katalog/pendidikan-agama-hindu-dan-budi-pekerti-untuk-smp-kelas-ix. Di sini saya juga bisa ikut kursus editor dari LSP yang ditunjuk oleh kementerian.
Pengalaman lainnya ketika saya iseng-iseng mengikuti Program Apresiasi Pengetahuan Lokal (APL) yang diselenggarakan oleh Badan Riset Inovasi Nasional (BRIN) tahun 2023. Ternyata di luar dugaan saya. Awalnya saya psimis, buku saya akan diterima oleh BRIN, karena saya lihat yang diterima kebanyakan buku hasil karya riset dari peneliti dan dosen dari perguruan tinggi ternama. Buku saya berjudul “Kakawin Nitisastra: Teks, Terjemahan, dan Komentar” akhirnya mendapatkan pendanaan dan apresiasi APL dari BRIN (https://penerbit.brin.go.id/press/catalog/book/688). Hingga kini sudah ada 3 buku saya yang mendapat APL dari BRIN.
Ini hanya sebagian kecil dari pengalaman menulis saya, yang awalnya penuh dengan skeptisme dan serba kekurangan. Saya yang awalnya dipenuhi dengan ketidakpercayadirian dalam dunia tulis menulis, kini sedikit lebih percaya diri. Dan memang benar bahwa menulis itu sesungguhnya tidak susah (kalau dikerjakan dan terus diasah).
Semoga ini sedikit memberikan semangat para guru di wilayah Kota Batu untuk ikut serta menyukseskan program Lomba Menulis Buku yang diadakan oleh Dinas Pendidikan. Saat guru-guru di Kota Batu suka menulis dan banyak menerbitkan buku itulah, dunia pendidikan di Kota Batu akan dikenang dalam sejarah dan bisa melesat mendunia.
