Oleh: Miswanto
Kepala SDN Pesanggrahan 01 Batu
(Tulisan ini disarikan dari buku “Piawai Bergawai” yang ditulis oleh Miswanto)
Sebagaimana dijelaskan sebelumnya, gawai sudah menjadi teman sekaligus bestie bagi orang-orang di zaman sekarang, lebih-lebih mereka yang tergolong gen-C. Aktivitas bergawai tentu menjadi kebutuhan pokok yang bisa dilakukan setiap saat di mana pun mereka berada. Trend bergawai di kalangan masyarakat menjadi pemandangan yang biasa di tempat-tempat umum, perkantoran, hingga rumah.
Jangankan sehari tanpa gawai, sedetik pun kadang sudah menjadikan beberapa pe-gawai menjadi resah dan gelisah. Gabut adalah alasan yang sering dipakai banyak orang untuk memainkan gawainya. Ironisnya kadang di antara mereka hanya melihat-lihat menu di gawainya, menggeser-geser layar gawainya biar seolah sibuk dengan gawainya, melihat-lihat grup chat, bermain game, dan beberapa aktivitas lain yang tidak penting.
Hal ini sebagaimana pernah ditulis oleh Jawa Pos pada 12 Desember 2017, 11:25:47 WIB sebagai berikut.
Hampir tiap menit Nila (nama samaran) mengecek ponselnya. Seperti sedang menunggu sesuatu yang penting. Dilihat tidak ada apa-apa, ditaruh lagi. Tidak berapa lama, ponselnya dilihat lagi.
Padahal, Nila tidak punya janji menelepon maupun ditelepon. Notifikasi dan pesan pun tidak ada. Kenapa ya dia bisa sampai begitu?
KASUS Nila itu nyata. Kondisi tersebut merupakan gejala salah seorang pasien yang ditangani Dra Mierrina SPsi Mpsi. Menurut psikolog yang praktik di Siloam Hospitals Surabaya itu, masih ada banyak pasien lain yang ditemui dengan gejala serupa. ’’Nyaris semua orang yang memiliki gawai pasti mengalami hal itu. Paling tidak pernah merasakan itu,’’ ujarnya.
Sudah banyak penelitian yang menulis efek buruk kecanduan gawai. Yang jadi fokus Mierrina kali ini adalah abnormal personality. Menurut dia, pengguna gawai rentan mengalami gangguan kepribadian narsistik. Khususnya yang aktif di media sosial. ’’Selfie yang diunggah itu kan sudah dipilih, diedit dengan aplikasi. Mereka punya mindset, saya bangga pada diri sendiri dan orang lain juga harus kagum dengan saya,’’ kata Mierrina.
Si pengunggah berekspektasi mendapat perhatian dari pengikutnya. Mereka lantas terus-menerus ngecek, berapa sih yang like fotonya. Siapa saja sih yang sudah memujinya. Perempuan yang juga dosen Fakultas Dakwah dan Ilmu Komunikasi UINSA itu menjelaskan, sikap narsistik tersebut bisa jadi akar body dysmorphic disorder (BDD).
’’Misal, ada komentar yang bilang ’sekarang gemuk, ya’. Buat yang biasa, tentu nggak terlalu masalah. Tapi, buat yang sudah telanjur ketagihan dipuji, muncul tekanan untuk tampil sempurna,’’ tegas Mierrina.
Mereka kemudian terobsesi untuk kurus. Caranya macam-macam. Yang positif adalah olahraga dan diet seimbang. Namun, banyak yang sampai menjalani diet superketat atau melakukan berbagai tindakan pelangsingan tanpa pengawasan ahli. Penderita BDD juga rentan mengalami depresi karena dibayangi kekurangan fisik yang dirasa perlu tutupi.
Dalam kasus ekstrem, Mierrina menyatakan bahwa pecandu gawai mengalami no mobile phone phobia. Penderita fobia tersebut memiliki kekhawatiran tidak rasional ketika ponselnya tertinggal atau dalam kondisi mati.
’’Mereka takut ketinggalan berita. Di sisi lain, secara sosial, mereka takut dianggap mengabaikan atau dicap sombong kalau terlambat membalas chat atau tidak mengunggah foto atau video di media sosial,’’ paparnya.
Dr Hendro Riyanto SpKJ menilai kecanduan gawai sebagai candu yang sama kuatnya dengan narkoba. ”Sebab, kinerjanya hampir sama. Mengakses konten di media sosial atau internet yang ada di gawai bisa meningkatkan endorfin yang memicu rasa senang,” terangnya.
Spesialis kesehatan jiwa RS Jiwa Menur, Surabaya, itu menyatakan bahwa produksi endorfin berlebihan akan menimbulkan adiksi. ”Ketika sudah dalam tahap adiksi, orang-orang ini ibarat tidak bisa dilepas dengan ponselnya. Sama seperti kalau orang kecanduan narkoba, tapi tidak dapat suplai. Akhirnya muncul sakau dan mereka bakal melakukan apa pun supaya mendapat apa yang mereka mau,” lanjutnya.
Ciri-ciri Adiksi Gawai
Beberapa orang yang kecanduan gawai bisa dilihat dari kebiasaan sehari-hari. Nomophobia (no mobile phobia) adalah istilah untuk orang-orang yang mengalami adiksi gawai, di mana dia merasa takut jika melakukan aktivitas sehari-hari tanpa smartphone. Singkatnya, tiada hari tanpa gawai.
Ciri-ciri orang yang mengalami adiksi gawai bisa beragam. Dari anak-anak hingga orang dewasa dapat mengalami adiksi yang satu ini. Hal tampak secara umum yang terlihat dari mereka yang kecanduan gawai adalah sebagian besar waktunya dihabiskan untuk menggunakan gawai, seperti smartphone, tablet, laptop, dan gadget lainnya. Berikut ciri-ciri adiksi pada gawai yang perlu diwaspadai:
- Tidak bisa mengendalikan diri untuk bergawai serta merasa keberatan, enggan, resah, seperti ada yang kurang jika tidak bergawai, walaupun hanya sebentar.
- Selalu memprioritaskan gawai (media sosial) daripada kehidupan sosial atau hal-hal produktif serta tugas dan pekerjaan yang menjadi kewajibannya.
- Saat bergawai sering abai terhadap situasi dan kondisi sekitarnya, lupa durasi, hingga lupa waktu makan, dan sebagainya.
- Sering menggunakan gawai di waktu makan, bersama keluarga, atau aktivitas lain yang sebenarnya tidak memerlukan gawai.
- Sering memeriksa status atau unggahan pada gawai di tengah malam serta adanya ketakutan dan perasaan terisolasi saat tidak melihat media sosial atau disebut fear of missing out (FOMO).
- Menghabiskan banyak waktu untuk status di media sosial, membalas status-status di media sosial, atau mengirim email menggunakan gawai sebagai bentuk komunikasi kepada orang lain.
Dampak Adiksi Gawai
Gejala-gejala adiksi gawai seperti di atas jika dibiarkan secara terus menerus akan membawa dampak negatif bahkan kerugian pada pe-gawai tersebut. Berikut ini beberapa dampak negatif dan kerugian yang akan timbul pada para pe-gawai yang mengalami adiksi gawai.
- Mengalami gangguan mata. Jika terlalu lama menatap layar gawai tentu dapat membuat mata mengalami berbagai gangguan. Para pecandu gawai dapat mengalami mata lelah, mata kering, hingga terganggunya penglihatan.
- Nyeri pada bagian tubuh tertentu. Para pe-gawai yang sudah kecanduan gawai sering kali tidak menyadari bahwa lehernya sering tertekuk dan jari-jari tangannya tidak berhenti mengetik di layar gawainya. Ini sangat rentan dengan potensi penyakit nyeri seperti: sakit leher, nyeri bahu, serta nyeri pada jari-jari dan pergelangan tangan.
- Infeksi virus, kuman, atau bakteri. Perlu diketahui, bahwa layar gawai merupakan sarang jutaan virus, kuman, atau bakteri. Hal ini diperkuat dengan sebuah penelitian yang menyatakan bahwa kuman E-Coli penyebab diare paling banyak ditemukan pada gawai.
- Kurang tidur. Pecandu gawai tidak jarang rela begadang untuk melakukan berbagai aktivitas dengan gawainya. Hal ini membuat kualitas dan waktu tidurnya berkurang. Masalah kurang tidur ini bisa meningkatkan risiko terjadinya obesitas, diabetes, hingga penyakit jantung. Selain itu, karena kurang tidur, pe-gawai yang mengalami adiksi akan sulit berkonsentrasi dan mengalami kelelahan sepanjang hari. Hal ini dapat meningkatkan risiko cedera atau kecelakaan saat di jalan atau bekerja.
- Dampak buruk secara psikologis. Masalah psikologis yang sering terjadi pada pe-gawai yang kecanduan gawai adalah menjadi lebih mudah marah dan panik, stres, sering merasa kesepian karena berjam-jam menghabiskan waktu tanpa bersosialisasi dengan orang lain. Hal ini akan berpotensi meningkatkan risiko terjadinya depresi dan gangguan kecemasan, sulit fokus atau berkonsentrasi ketika belajar atau bekerja, hingga mengalami masalah dalam hubungan sosial, baik dengan keluarga, teman, rekan kerja, atau pasangan.
Cara Megatasi Adiksi Gawai
Dewasa ini banyak pihak yang ingin mencari cara untuk mengatasi adiksi gawai, karena memang semakin banyak anak hingga orang dewasa yang mengalami kecanduan gawai. Hal ini tidak lepas dari penggunaan gawai dan digitalisasi yang semakin masif.
Ketergantungan pada gawai ini sebenarnya bisa diatasi. Berikut ini beberapa cara mengatasi kecanduan gadget yang sangat penting untuk diketahui, dilansir dari laman The Economic Times dan Hindustantimes.com.
- Matikan paket data atau wifi gawai
Ini adalah cara termudah yang bisa dilakukan kapan dan di mana saja, terutama saat kita bekerja, berlibur, di sekolah, atau melakukan aktivitas penting yang tak boleh diganggu. Beberapa ponsel pintar bahkan sudah memiliki opsi untuk beralih antara mode pribadi dan kantor, dan fitur tersebut dapat membantu mengurangi ketergantungan. Kita harus betul-betul memanfaatkan waktu saat “santai tanpa gawai” dengan mengerjakan hobi seperti membaca, berolahraga, atau sekadar bercengkrama dengan keluarga dan pasangan.
- Perbanyak me time
Penting untuk disiplin dalam mengalokasikan slot waktu untuk mengerjakan hal-hal lain di luar menggulirkan jari pada layar gawai kita. Me time bagi setiap orang tentu berbeda-beda. Ini bisa dilakukan pada saat kita melakukan hal-hal yang spesial atau yang kita sukai agar terbebas dari gawai.
- Belajar seimbangkan waktu
Menyeimbangkan dan mengatur waktu dapat membantu kita mengatur penggunaan gawai. Penting untuk mencapai keseimbangan antara berbagai aktivitas termasuk yang harus menggunakan gawai dan tidak perlu gawai.
- Aktif secara fisik
Adiksi gawai dapat diatasi dengan membuat tubuh menjadi lebih aktif dalam hal fisik. Aktivitas di luar ruangan akan meminimalisir paparan terhadap gawai. Jangan abai juga kewajiban untuk bersosialisasi. Pergi bersama teman dan keluarga, menemui kerabat untuk sekadar bersilaturahmi lebih baik dari pada sekedari seharian penuh bergumul dengan gawai. Aktivitas fisik tersebut akan dapat membantu kita melupakan gawai sejenak.
- Batasi penggunaan gawai pada waktu tidur
Banyak penelitian menyimpulkan bahwa tampilan di sebagian besar perangkat elektronik atau gawai menekan melatonin, yang mengganggu jam tubuh alami kita. Tidur, istirahat, dan santai sangat penting dan tidak boleh diabaikan hanya demi gawai. Jika tidak kesehatan tubuh kita yang menjadi taruhannya.
Lain gejala dan suasana tentu lain cara penanganannya. Jika yang mengalami adiksi gawai adalah para remaja, maka bisa diatasi dengan cara-cara seperti di bawah ini.
- Perbanyak bersosialisasi dengan teman
Memperbanyak waktu bersosialisasi dengan teman ini diyakini bisa mengurangi ketergantungan gawai pada remaja. Dengan bersama teman-temannya, maka gabutnya akan hilang dan senang pun datang. Hal ini yang akan membuat mereka lupa gawainya. Saat memutuskan untuk berkumpul bersama teman-teman, cobalah untuk tidak mengeluarkan gawai masing-masing. Gunakan waktu berkumpul untuk mengobrol dan bersenda gurau. Jangan sampai gawai akan menjauhkan orang terdekat yang sudah ada di depan mata.
- Matikan gawai sebelum tidur
Sekitar 30–60 menit sebelum waktu tidur, gawai harus mati. Cara ini mungkin terasa sulit di awal, tetapi akan terbiasa jika rutin dilakukan. Hal ini juga membuat tidur lebih cepat dan lelap, sehingga bangun tidur mata, pikiran, dan tubuh menjadi lebih segar.
- Hapus aplikasi penyebab adiksi
Di gawai remaja sekarang pasti ada beberapa aplikasi yang sering dibuka. Biasanya aplikasi-aplikasi itu yang kerap membuat kecanduan. Ada baiknya beristirahat sementara dari aplikasi tersebut dan menghapus aplikasi dari gawai.
- Pelajari dampak adiksi gawai
Hal terakhir yang dapat dilakukan untuk mengatasi kecanduan gawai pada remaja, adalah memperbanyak literasi terkait dampak kecanduan gawai sebagaimana telah dikupas sebelumnya. Jika sudah paham dan mengetahui betul apa saja bahayanya, kemungkinan besar setiap remaha akan berpikir seribu kali untuk terlalu sering bermain gawai.
Penanaman karakter dan kebiasaan memang sebaiknya dilakukan pada saat anak-anak. Pengaturan penggunaan gawai pun perlu ditata sejak masih anak-anak, agar mereka tidak mengalami kecanduan gawai. Jika mereka sudah terlanjur kecanduan gawai, maka peran orang tua untuk mengatasinya menjadi hal yang sangat penting untuk dilakukan.
Sebagaimana digambarkan pada infografik di atas, ada beberapa upaya yang bisa dilakukan untuk mengatasi adiksi gawai pada anak, antara lain: membatasi penggunaan gawai, menjadwalkan waktu bergawai, tidak memberikan akses penuh kepada anak pada gawainya, menetapkan wilayah bebas gawai, dan mengajarkan kepada anak tentang pentingnya menahan diri. Serta yang paling penting adalah memberikan contoh yang baik kepada anak terkait penggunaan gawai.

